• Menjadi Pewarta di Media Gereja? Astaga!

    game wawancara bersama Pastor Jaka OFM Conv dalam satu pelatihan menulis di Paroki Bandar Baru - KAM
    Misalkan Anda diminta Pastor turut bergabung dalam Tim Komsos Paroki. Anda merasa sungkan menolak undangan sang gembala. Namun di sisi lain, terbayang ribetnya peran yang bakal kerap ditunjuk sebagai seksi dokumentasi dan pemberitaan kegiatan Paroki. Seperti menulis berita seremoni di stasi maupun Paroki. Juga memotret, menyunting, menentukan tema setiap edisi, distribusi dan kontak dengan pelanggan; semua itu bagai pekerjaan raksasa membuat diri Anda bagai domba malang yang terjerat di semak-semak.

    Gambarannya tidak akan seseram di atas jika Anda telah lama berkutat di dunia media. Namun, tidak semua insan mendapat ‘kutukan’ berada di balik dapur redaksi. Tenang sajalah, blog ini akan menjadi ‘teman bercerita’ dalam menjalani peran di media,baik di media Gereja, kampus bahkan lingkungan kerja.

    Anda mungkin bertanya terlebih dahulu: apa pentingnya media? Mengapa setiap lembaga kini repot-repot membangun media? Penjelasan secara teoritis bakal membuat Anda ngantuk. Namun saya ada sebuah cerita menarik. Berikut kisahnya:


    “Wah. Tunggu dulu! Sepertinya ada sesuatu muncul! Pendengar sekalian, saya melihat sesuatu yang mengerikan. Tampak ujung dari benda tersebut mulai mengelupas! Bagian atasnya mulai berputar seperti sekrup! Benda itu pasti terbuat dari besi! Ini benda paling menakutkan saya yang pernah saya lihat! Tunggu sebentar. Tampaknya seseorang merangkak keluar dari bagian atasnya yang berongga. Orang ataukah … benda. Dan saya masih terpaku menatap dua cakram bercahaya di depan … apakah itu mata? Atau mungkin itu wajah. Yah bisa jadi…?” [1]
    Petikan kalimat di atas berasal dari sebuah naskah drama untuk radio yang dimainkan oleh Orson Welles dan Mercury Theater pada 30 Oktober 1983 silam. Drama yang disiarkan oleh Radio CBS Radio Studio One di New York ini bertemakan serangan mahluk alien dari planet Mars ke Bumi.
    Sepintas tidak terdapat hal yang aneh dalam petikan naskah tersebut. Hal yang wajar sebab kita telah kenyang dengan sajian hiburan fiksi ilmiah dari berbagai saluran multi media. Namun, sebaliknya bagi pendengar di New York yang kala itu masih berkutat pada media radio, justru menimbulkan dampak yang jauh.
    Segera setelah drama berdurasi satu jam tersebut disiarkan, masyarakat berbondong-bondong ke stasiun CBS dengan membawa berbagai perabot. Jalan-jalan dipenuhi suasana histeris. Rumah-rumah ibadah penuh sesak oleh manusia yang ingin bertobat. Semuanya mengira bahwa cerita drama tersebut adalah sungguhan. Baru setelah Orson dan CBS menjelaskan duduk perkara sebenarnya, masyarakat kembali tenang.

    Drama Radio CBS New York tadi membuat geger para peneliti dunia betapa hebatnya daya media dalam mempengaruhi masyarakat. Peran vital tersebut yang kerap diberdayakan untuk membentuk pendapat dan keputusan insan pengguna media. Baik dalam masa pemilihan kepala daerah ataupun negara, serta ‘rayuan’ untuk membeli barang dan jasa.


    Dalam lingkup lembaga, fungsi media tidak sekedar memberi informasi/ berita kegiatan seremonial belaka. Lebih jauh lagi ‘saluran’ tersebut terus-menerus menyuarakan nilai dan visi-misi yang diusung lembaga. Untuk media Gereja tentu saja ada nilai dan visi-misi yang hendak dipaparkan kepada umat. Sebagai komunikan*, umat meresapi nilai rohani dalam media pewartaan serta dilibatkan untuk mencapai visi-misi Gereja.

    Nah! Peran mulia ini lah hendak diembankan di pundak Anda. Kini kita 'berjalan' bersama mempelajari membangun media Gereja. Baik di lingkup Paroki ataupun lingkungan.


    Pustaka:



    * Penerima informasi dalam berkomunikasi

  • 0 komentar:

    Posting Komentar